Pagi dengan semburat cahaya mentari yang menghangat. ku bersedih tanpa sebab yang pasti. Satu minggu ini memang pekerjaanku full, sebagai manusia yang punya keterbatasan tenaga, bekerja 16 jam perhari menggunakan tenaga tangan dan kaki, memang cukup membuatku kelelahan. Dan pagi ini.... tiba-tiba berlintasan wajah-wajah orang yang kucintai namun mengkhianatiku. Orang-orang yang pernah mematahkan semangatku dan merapuhkan ketegaranku.
Aku menyesali kebodohanku, yang memikirkan orang lain di atas kepentinganku. Kini tak ada yang satu pun mereka yang tahu, tetes-tetes peluh membasahi pori-poriku. Dan pagi ini.... Bukan hanya peluh saja yang menetes, tapi airmatakupun jatuh tanpa ku sadari. Dan semakin deras kala tanganku sepertinya enggan untuk mengemban tugasnya.
Sampai akhirnya aku lari ke lantai atas, yang seminggu ini tak ada waktu lagi ku bersua dengan senja. Aku membuang nafas berat berkali-kali, menariknya pelan. Tapi dadaku terasa sesak sekali. Aku harus menangis!!!.
Setelah sepuluh menitan, ku guyur kepalaku dengan air yang terpancur dari kran air yang biasa kubuat untuk menyiram bunga. Dan sebisa mungkin, ku sembunyikan sembab yang membekas di lingkaran lelah mataku. Tak perlu siapapun tahu. Karna memang tak kan ada yang mau tahu.
Sesaat ku pandang ke langit cerah. Ku tersenyum padanya. Mendung tak berarti hitam...!!! Hidup juga bukan hanya untuk di khayal!!! Yuni... kau lebih beruntung dari banyak wanita-wanita lain yang lebih malang darimu!!! AKU TERSENYUM. Kuakhiri kesah dengan memaksakan tersenyum untuk menghibur diri dalam kehampaan hari.
Monday, April 20, 2009
Sunday, April 12, 2009
i love my bobo
Hari ini aq baru aja pulang liburan, badan lelah karna dr jalan-jalan nemenin teman shoping, padahal shoping adalah kegiatan yg paling aq tidak suka. Setelah masuk rumah, betapa kagetnya aq, setelah mendapati nenek{bobo}mjk ku, sudah dengan keadaan tangan di gendong, dan bibir jontor, bahkan sebagian wajahnya yang keriput itu , ada luka-luka kecil menggores.
Aku langsung panik dan menghujaninya pertanyaan.
"Bobo..timkai a..?? timkai wui kam yong a..." Aku benar2 panik, sampe ingin menangis.
"Tik to la Asih, ngo wan lei emto, ngo mbe jikei dai isang o..." Jawabnya yang artinya, { aq jatuh, asih.., aq tak bisa menghubungimu, makanya aq pergi ke dokter sendiri.
Aku langsung meemluknya, hatiku begitu menyesal. Padahal biasanya sebelum pulang jam 7 malam, aq musti telpon Bobo menanyakan mau makan apa, ato apa..!
Oh Bobo..., beliau telah berusia 81 th, menyayangiku, sering membantu pekerjaanku jika aq tak ada waktu mengerjakannya.
"Tu em ci Bobo...." Berkali-kali aq minta maaf, dia hanya tersenyum dan bilang," Iya Asih, orang tua memang ngrepotin ya, sebenarnya lebih awal pergi ke alam baka, itu lebih baik ya..!"
" Timkai lei kem kong a..?" Tanyaku kenapa Ia bicara begitu. Beliau justru ber filusufi.
"Kamu dengar pepatah cina Asih? umur 50 ke atas, bahwa satu kakinya telah berada di pinggir kubur??"
Degggg!!! Aku hanya menatapnya. Lalu beliau menertawakan aq... " He..he... Kamu juga siap-siap Asih..."
Aku langsung panik dan menghujaninya pertanyaan.
"Bobo..timkai a..?? timkai wui kam yong a..." Aku benar2 panik, sampe ingin menangis.
"Tik to la Asih, ngo wan lei emto, ngo mbe jikei dai isang o..." Jawabnya yang artinya, { aq jatuh, asih.., aq tak bisa menghubungimu, makanya aq pergi ke dokter sendiri.
Aku langsung meemluknya, hatiku begitu menyesal. Padahal biasanya sebelum pulang jam 7 malam, aq musti telpon Bobo menanyakan mau makan apa, ato apa..!
Oh Bobo..., beliau telah berusia 81 th, menyayangiku, sering membantu pekerjaanku jika aq tak ada waktu mengerjakannya.
"Tu em ci Bobo...." Berkali-kali aq minta maaf, dia hanya tersenyum dan bilang," Iya Asih, orang tua memang ngrepotin ya, sebenarnya lebih awal pergi ke alam baka, itu lebih baik ya..!"
" Timkai lei kem kong a..?" Tanyaku kenapa Ia bicara begitu. Beliau justru ber filusufi.
"Kamu dengar pepatah cina Asih? umur 50 ke atas, bahwa satu kakinya telah berada di pinggir kubur??"
Degggg!!! Aku hanya menatapnya. Lalu beliau menertawakan aq... " He..he... Kamu juga siap-siap Asih..."
Saturday, March 21, 2009
cerita masa lalu yang lucu
Ada dua cerita lucu, yang apabila aku mengingatnya selalu membuatku tak mampu menahan tawaku sendiri. {mungkin aku menrindukan anak itu}
Suatu hari sewaktu Aku masih di indonesia.
Kisah menceritakan....
Aku pergi ke warung bersama suamiku, dan di warung itu ada karyawan seorang gadis yang sedikit{iQ rendah}, yang menyukai suamiku. dan aku yang juga tentang hal itu, jadi suka nggodain dia . Suatu kali aku menggodanya..
Aku: "Eh Nil, neh ada Janoko datang? gimana, mau ga cuciin bajunya? aku capek Nil!"
Dengan malu-malu dia menjawab. " Ach Mbak ini, jangan gitu dong, Hmm...kemaluanku besar Mbak"
Semua yang mendengar di situ langsung...GGGGRRRRRRRRR!! tertawa , bahkan sampe ada yang tersengal-sengal karna mendengar gramar bahasa indonesianya si Nila.
Alih-alih ingin bilang" punya rasa malu yang besar, eh..malah bilang kemaluannya besar"
Ha..ha...ha
Satu lagi kejadian lucu itu.
Cerita mengisahkan....
Di suatu malam Aku agak bersungut-sungut, entah apa masalahku, tapi yang pasti semua hampir kena getah itu, tak terkecuali anakku. Malam itu, dia ingin tidur bersamaku.
Dia bilang:" Ma, malm ini aku tidur di kamar Mama"
Jawabku :" Ikh, udah gede kok masih minta tidur sama Mama sih?"
Dia jawab:"Aku takut tidur sendirian Ma"
Balasku :"Udah segede ini masih ga berani tidur sendirian? hah?"
jawabnya:"Yach.. Mama juga, sudah segede itu, masih minta di temenin Papa tiap malam! kalau begitu, mulai hari ini, Mama tidur di kamar sana{menunjuk kamar sebelah} dan Papa tidur di kamar sini{menunjuk kamar utama} dan aku tidur di situ{menunjukkamar tengah}.
Sesaat aku saling berpandangan dengan suamiku, aku bingung memeberi respon dan menjawab apa yang di katakannya! Yach...akhirnya ngalah dech! ha..ha..ha
Suatu hari sewaktu Aku masih di indonesia.
Kisah menceritakan....
Aku pergi ke warung bersama suamiku, dan di warung itu ada karyawan seorang gadis yang sedikit{iQ rendah}, yang menyukai suamiku. dan aku yang juga tentang hal itu, jadi suka nggodain dia . Suatu kali aku menggodanya..
Aku: "Eh Nil, neh ada Janoko datang? gimana, mau ga cuciin bajunya? aku capek Nil!"
Dengan malu-malu dia menjawab. " Ach Mbak ini, jangan gitu dong, Hmm...kemaluanku besar Mbak"
Semua yang mendengar di situ langsung...GGGGRRRRRRRRR!! tertawa , bahkan sampe ada yang tersengal-sengal karna mendengar gramar bahasa indonesianya si Nila.
Alih-alih ingin bilang" punya rasa malu yang besar, eh..malah bilang kemaluannya besar"
Ha..ha...ha
Satu lagi kejadian lucu itu.
Cerita mengisahkan....
Di suatu malam Aku agak bersungut-sungut, entah apa masalahku, tapi yang pasti semua hampir kena getah itu, tak terkecuali anakku. Malam itu, dia ingin tidur bersamaku.
Dia bilang:" Ma, malm ini aku tidur di kamar Mama"
Jawabku :" Ikh, udah gede kok masih minta tidur sama Mama sih?"
Dia jawab:"Aku takut tidur sendirian Ma"
Balasku :"Udah segede ini masih ga berani tidur sendirian? hah?"
jawabnya:"Yach.. Mama juga, sudah segede itu, masih minta di temenin Papa tiap malam! kalau begitu, mulai hari ini, Mama tidur di kamar sana{menunjuk kamar sebelah} dan Papa tidur di kamar sini{menunjuk kamar utama} dan aku tidur di situ{menunjukkamar tengah}.
Sesaat aku saling berpandangan dengan suamiku, aku bingung memeberi respon dan menjawab apa yang di katakannya! Yach...akhirnya ngalah dech! ha..ha..ha
Thursday, March 12, 2009
Bila Rasa Adalah Kiasan

Ketika seseorang mengucapkan pujinya padaku..
Aku merasa tersanjung.
Ketika seseorang mengetahui sisi keburukanku..
Aku merasa malu.
Menjadi diri sendiri..Se-mudah kala mengucapkannya.
Tapi menjadi lain, saat dalam ketersudutan akan pilihan.
Kadang karna ingin merasa kuat..
Harus ku sunggingkan senyum di sudut bibir.
Walau mungkin otot-otot leher sedang meregang kencang.
Entah.. haruskah menangis atau malah tertawa..
Melewati hujan panasnya cobaan hidup?
Menjadi Primadona di atas Permadani kehidupan..
Adalah impian setiap insan!!
Menginginkan Dunia selalu terang, mungkin sesuatu yang serakah.
Lantas dosakah jika hati meronta...
Kala terpaksa menerima badai petirnya??
Wednesday, March 11, 2009
Kangenku padanya
Dari dia...untuk dia.. hanya dia...
Yang slalu ada...tak pernah enyah...
Di dalam dada..
Tentang putraku
Selama delapan tahun enam bulan aku meninggalkannya, dan tahun ini memintaku untuk pulang..pulang dan pulang.
Ku tinggalkan saat berumur delapan belas bulan, hingga kini sepuluh tahun sudah.
Ada yang membuatku enggan, tentang hubunganku dengan Ayahnya. yang telah membuatku belum bisa memaafkannya dengan arti menerimanya. Walau aku tahu memaafkan tak berarti menerima! tapi... kekerasan kepalanya untuk tetap tidak akan melepasku! adalah ganjalan yang sungguh menghantuiku!!
Tak tahu ini bentuk cintanya atau sekedar untuk menjadikan jalanku terkatung. Tapi aku berusaha menghargainya.
Aku sangat merindukan Putraku, yang hanya berharap aku ada di sampingnya, pun aku belum bisa mengabulkannya!!
Ku coba menjelaskan, bahwa masih banyak yang dia perlukan, dan aku berjanji waktu yang di tunggu itu akan datang.
Jawabnya" kalau begitu, setiap permintaanku , harus di kabulkan!"
Yang slalu ada...tak pernah enyah...
Di dalam dada..
Tentang putraku
Selama delapan tahun enam bulan aku meninggalkannya, dan tahun ini memintaku untuk pulang..pulang dan pulang.
Ku tinggalkan saat berumur delapan belas bulan, hingga kini sepuluh tahun sudah.
Ada yang membuatku enggan, tentang hubunganku dengan Ayahnya. yang telah membuatku belum bisa memaafkannya dengan arti menerimanya. Walau aku tahu memaafkan tak berarti menerima! tapi... kekerasan kepalanya untuk tetap tidak akan melepasku! adalah ganjalan yang sungguh menghantuiku!!
Tak tahu ini bentuk cintanya atau sekedar untuk menjadikan jalanku terkatung. Tapi aku berusaha menghargainya.
Aku sangat merindukan Putraku, yang hanya berharap aku ada di sampingnya, pun aku belum bisa mengabulkannya!!
Ku coba menjelaskan, bahwa masih banyak yang dia perlukan, dan aku berjanji waktu yang di tunggu itu akan datang.
Jawabnya" kalau begitu, setiap permintaanku , harus di kabulkan!"
Tuesday, March 10, 2009
Sang Kupu-kupu

Dia.. hinggap di setiap daun, meronakan warnanya yang meranum.
Dia terbang di cerucut cemara, membiaskan keglamoran sesaatnya.
Dia terbang tanpa lelah dengan keyakinan, merasa indah pun dalam kerendahan.
Dia tetap kuat dalam lapuknya bulu di tubuh dan sayapnya.
Dia hanya kiasan.
Dia hanya ilusi.
Dia hanya mimpi
Sang kupu-kupu Malam...{paterpan}
Ada yang benci dirinya...
Ada yang butuh dirinya...
Ada yang berlutut mencintainya...
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya..
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam..
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga...
Dia tersenyum, kata manis merayu memanja..
Kepada mreka yang datang..
Dosakah yang mereka kerjakan..
Sucikah mereka yang datang...
Kau tersenyum, dalam hati menangis...
Kau menangis di dalam senyuman..
Yang terjadi...terjadilah....
Yang dia tahu Tuhan penyanyang umatnya...
Wednesday, March 4, 2009
Pingshan
Di a
Subscribe to:
Posts (Atom)
