Wednesday, May 27, 2009

Bila Lidah Berdusta

Kutatap matanya dengan tatapan menerkam. Ku pastikan jika aku tak selemah dulu. Dan mudah percaya dengan semua kecohan matanya yang meyakinkan.

"Pa, sekarang aku telah di depanmu, ku peringatkan padamu untuk jujur padaku!"
Kataku yang sengaja ku buat sebegitu ber wibawanya. Meski aku tahu ini buka sifatku! Namun, tak ada salahnya juga mencoba resep temanku untuk tegas meghadapi sosok Lelaki yang suka berkelit seperti Lelaki di depanku ini.

Ia masih diam menunduk. Tak seperti biasanya yang tajam menatapku dan tajam pula Ia megatakan sesuatu padaku tentang alasan-alasannya setiap melakukan kesalahan.

"Masih adakah janji yang engkau tinggalkan pada Wanita-wanitamu di luaran sana? Aku ingin kita bersih dari semua bangkai-bangkai tersembunyi dalam hati kita Pa! Aku tak ingin lagi ada ledakan yang lebih dahsyat di belakang nanti! Saya harap kita bisa terbuka, dan jantan mengakui semua kesalahan! juga jantan menerima keputusan dari masing-masing pihak!" Kataku lagi, bak kata-kata jaksa penuntut umum di pengadilan.

Ia sekilas menatapku. Tak kutemukan lagi tatapan yang dulu sering menjatuhkanku dalam kubangan kepedihan, penyesalan mempercayainya, dan akhirnya hanya pasrah menerima semuanya dengan embel-embel lapang dada.

Hatiku mulai melunak, aku tak yakin dengan cara kerasku menggertaknya untuk mau meninggalkan kebiasaannya berbohong. Bagaimanapun aku selalu menghormatinya dan menempatkan diri dan derajatnya di atasku. Aku hanya ingin merubah sifat-sifatnya! tapi aku ini siapa? berhakkah aku merubah sifat siapapun?... batinku mulai berpentalan membentuk ritmik seperti ritmik bola basket yang di lempar ke lantai. Mulanya terpental di ketinggian, semakin lama semakin rendah...rendah...dan akhirnya berhenti di telapak kaki Sang pemain bola.

"Pa, jawablah! bicaralah? tegakah engkau melukaiku selamanya? apa hak engkau membuatku begini?! Kenapa kau menyiksaku dengan semua kebohonganmu?! " Aku mulai bersimpuh dalam keputus asaan. Aku benci dia dalam batas-batas cintaku yang terjauh.

"Aku tak ingin lagi menjawab semua pertanyaanmu Ma!"
Jawabnya terkesan mengindahkan semua permohonanku.

Aku menatapnya lagi. Kali ini Ia juga menatapku. Dan aku selalu tak mampu menembus kedalaman relung matanya. Mengartikan tatapannya. Dan menemukan jawaban atas semua keraguanku tentang semua yang di katanya.

"Kalau begitu , Kau menantangku! aku tak mau menangis lagi! tak mau memohon lagi agar engkau berhenti berdusta! aku hanya ingin kejujuranmu! agar hatiku tenang, tak selalu di bayangi oleh perasaan cemburuku pada wanita-wanitamu sebelum aku kembali di rumah ini! aku tak mampu lagi mengulang rasa seperti itu di malam-malamku Pa..! saya mohon..!"
Kali ini ketegaranku gugur. Ku biarkan airmataku menetes semaunya. Aku tak akan lagi berusaha mengusapnya. Dan berusaha menyembunyikannya.

"Ma...! kamu tak ingin aku mendustaimu kan?" Kata suamiku lagi. Pernyataannya itu mampu mengusik hatiku yang sulit mempercayainya. Sejenak, aku diam mencerna kata-katanya. Dan ku rasa sebait kata yang di ucapkannya itu bukanlah sebuah alasan. Tapi sebuah per tanyaan balik, kenapa Ia beralasan dan berdusta. Aku mulai mengajak hatiku untuk mau mendengarkan apa yang akan di katakan suamiku selanjutnya. Aku diam. Dan ku isyaratkan akalu aku sedang mendengarkannya dan mempercayainya.

"Ma..! hatimu tahu bagaimana hatiku mencintaimu! bagaimana jiwaku rapuh bila aku mendapati diriku melukaimu! aku tak menginginkan itu! apa kamu kira aku tertawa di balik tangismu? Jika kamu tahu, tangisku lebih deras dari yang kau uraikan!" Kembali Ia melontarkan kata-kata, sebelum aku sempat menjawab apapun atas pertanyaannya tadi. Ku pandangi wajahnya dengan seksama. Ucapanya terdengar begitu tajam walau tertahan. Ku lihat urat lehernya seperti sedang menahan satu beban aliran ucapan-ucapanya.

Aku masih diam memaku.

"Tapi kenapa kamu selalu memberiku kesempatan untuk berbuat kesalahan? kenapa kamu tidak meyadari apa yang ku butuhkan sebenarnya? kenapa kamu hanya menyalahkaku, dan membuatku takut kehilangan dirimu?!" Kali ini ku dengar suaranya meluruh. Dan ku lihat nyata tetesan air matanya. Dia menangis?... Pikirku sedikit galau.

"Aku menyalahkanmu? Aku tak tahu yang kau butuhkan? " Jawabku yang kurang mengerti arah pembicaraannya. Selama ini aku merasa selalu mengalah, menghormatinya, dan memberi semua cintaku padanya. Dengan hati tulus dan iklhas. Ada apa ini?? ... Hatiku mulai merangkai pertanyaan-pertanyaan yang siap ku lemparkan padanya.

"Berhentilah mencurigaiku, berhentilah berpikir bahwa aku selalu berdusta padamu! karna jika kamu selalu begitu, aku akan merasa diriku seperti itu!" Sekali lagi Ia melontarkan kata-kata yang sanggup menegangkanku.

Aku mulai berpikir dengan permohonanya. Mempertimbangkan aturannya. Walau aku masih tidak yakin jika Ia berhenti berdusta.

Beberapa malam aku renungkan. Aku telusuri semua ganjalan masalahku dengan suamiku selama ini. Banyak hal-hal yang harus ku jawab dari pertanyaanku sendiri. Kenapa aku selalu merasa Ia yang selalu bersalah? dan selalu mendustaiku? Benarkah aku terlalu mencurigainya?...

Di suatu malam setelah kira-kira satu minggu paska pertengakaran kecilku dengan suamiku. Aku tertuntun untuk masuk ke dalam kamar tidurnya selama ku tingalkan rumah ini. Masih dalam rangka mencari-cari jawaban tepat untuk memuaskan hatiku.

Hanya ku dapati sepucuk surat yang terlipat rapi di atas meja lampu di sisi ranjang. Aku duduk di tepi dipan yang masih terasa ada bau khas keringat suamiku itu dengan hati berdebar. Ku raih lipatan kertas yang bisa ku baca dengan terang namaku tertulis di sana. "Surat ini untukku?"
Aku mulai membacanya...

Untukmu Istriku...
Maafkan sebelum dan sesuadah kau baca isi surat ini. Dariku yang sudah begitu membuat banyak kesalahan padamu. Dan berharap maafmu tak ada batas untuk diriku Sang Pendusta di matamu ini.

Istriku...
tak kusalahkan dirimu yang mungkin tak lagi percaya padaku! hanya saja... ku ingin kau mengerti rasa yang pernah ku rasakan tentang hati dan cintaku padamu. Meninggalkan itu mungkin lebih mudah dari di tinggalkan Istriku...! itu perasaanku selama ini. Kini.., aku akan mencoba merasakan perasaan yang pernah kau lewati selama meninggalkanku. Agar aku juga mengerti pengharapanmu tentang pengertianku padamu. Sayang..., aku tak bisa memaksamu untuk memaafkanku, dan aku tak juga bisa berjanji banyak padamu, karna aku takut mengingkarimu. Yang ingin ku sampaikan adalah, bahwa aku sangat mencintaimu, dan aku sangat tahu jika aku tak bisa hidup tanpa ada kamu di sisi aku!
Dariku Lidah pendusta

Ku genggam erat surat itu dan aku mulai mencari-cari sosok suamiku. "Iya aku percaya sayang..iya aku percaya..." Hatiku tak hentinya memanggil. Saat itu aku benar-benar mengerti bahwa maaf dan sabar itu tidaklah terbatas. Yang membatasi maaf dan sabar hanyalah ketamakan dan ke angkuhan hati. Sabar itu ke pasrahan, dan maaf itu adalah ke ikhlasan.

" Aku ingin menatap matamu saat ini juga! aku ingin memastikan bahwa engkau tidak berdusta! kenapa tidak dari dulu engkau mau dengan besar hati mengakui kesalahanmu seperti ini? kenapa tidak dari dulu engkau tak suka beralasan yang sering tak masuk akal? kenapa baru sekarang kamu mengerti apa yang di inginkan hatiku tentang sebuah pengakuan atas setiap kesalahan? Aku juga manusia, aku juga pendosa! aku mengerti..! maafkan aku yang tak mau memberi kesempatan pada hatiku untuk mengerti dirimu."

~~~~~***~~~~~

"Ma...! " Sebentuk wajah heran memandangku dari bibir pintu.
Aku tergagap dari lamunanku. Ku sadari diriku yang sedang terisak-isak di pinggir taman kecil di belakang rumah. Aku menoleh ke arah suamiku yang berjalan mendekatiku. Namun aku tetap tak bergeming.

Ku usap airmata yang masih mengalir tanpa ku sadari. Ternyata aku baru saja melamun. "Gila! aku melamun sampai sedemikian sempurnanya! halusinasiku begitu jelas mengilustrasikan endapan-endapan perasaanku!"

"Ma, masih marah ya? maafkan Papa Ma..!" Kata suamiku lembut merangkul bahuku dan mengelusnya.

Aku tetap diam. Alam pikiranku masih terpengaruh dengan lamunanku barusan. Dan sebenarnya tangisanku ini bukan karena aku masih marah dengannya. Semalam , kami memang sempat terlibat pertengkaran kecil. Di karenakan Dia yang selalu begitu dan begitu! tak mau menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan kenapa dan mengapa yang ku ajukan setiap ku rasa Dia ada kesalahan. Dan aku kecewa dengan diamnya.

Aku mencoba menutupi ke gelianku atas lamunan yang telah membuatku menangis sesenggukan ini dari suamiku. Aku masih diam. Dan ku biarkan Dia menerka-nerka atas tangisanku ini. Meski sebenarnya dalam hati aku sangat geli dengan kekonyolanku sendiri. Hanya saja, aku mungkin malu untuk mengakuinya. Dan menurutku, ini kesempatan untuk memancing perasaan yang tersembunyi di hatinya." Adakah yang akan Dia katakan setelah ini?" Hatiku mulai menunggu jawaban.

"Ma, aku takut sekali setiap membuatmu menangis seperti ini..! dari tadi aku mengawasimu , kulihat kamu marah dan begini..! maafkan aku Ma...! Maafkan..!"

Ku tatap matanya yang redup menyiratkan kejujurannya. Ku balikkan badanku dan ku peluk dirinya erat. Aku tak ingin Dia meninggalkanku seperti dalam lamunanku tadi. Aku tak ingin merasakan rasa penyesalan seperti itu lagi. Tak bisa ku katakan apapun di pelukannya. Hanya hatiku yang menyambugkan perasaan ini lewat debarnya.

"Trimakasih Ma..! smoga aku bisa memenuhi perharapanmu tentang perubahan sifatku".

"Tidak Pa, aku juga punya salah, tidak hanya engkau yang harus merubah keburukan-keburukan, tapi diriku juga! kita satu keluarga, tak seharusnya ada curiga dan kekerasan hati untuk tidak memaafkan"

Kami hanya saling berpelukan dalam kedamaian hati. Di mana letak hati pada posisi kerelaan. Karna hidup tak selamanya terlukis indah. Ada kalanya coretan-coretan menyakitkan menjadi pewarna kanvas dalam lukisan kehidupan .

Haruskah kita tunduk pada keangkuhan dan ketamakan yang mengunci ke indahan taman hati dalam memekarkan bunga cinta? Cinta kepada manusia seharusnya tak lebih tinggi dari cinta kita pada Sang pemilik manusia. Dan memaafkan adalah kunci kita mencintai.

6 comments:

bening said...

pertamaxxxxxxxxxxxx, buat kapling dulu baru baca he he he..

si kumb@ng said...

hemmm....
ada pelajaran dan renungan buat aku..
thank's

halaman waktu said...

hm hm hmm...!!! whuuuh, kisah yang berrrrat, ampun deh. mengaduk-aduk emosi...tujuan penulisnya tepat sasaran.
sebuah permohonan untuk penulisnya. hihihi... anu non.. ah bingung... malu...
"...semoga semakin ahli di bidang tulis menulis dan kehidupan nyata..."

bening said...

awalnya aku agak kurang faham, tapi setelah menuntaskan secara tuntas tas baru aku bisa memetik pesan tersembunyimu, thanks kawan u always great

Yuyun said...

@ bening: he..he kayak tanah aja bikin kapling! makasih apresiasinya Non!
@ si kumbang: Alhamdulilah, jika ada yg di petik dr apa yg tertulis di cerita itu.
@ Halaman Waktu: Masak ke aduk sih? Hayo pasti tuh ada perasaan lain yang di sembunyikan?! he..he becanda ya..!
Ok makasih semuanya..!

chikal said...

te o pe be ge te daaaahhhh...