Thursday, May 7, 2009

Cahaya di ufuk nestapa

Jari-jarinya terus menari di atas keybord komputernya. Menerjemahkan ide-ide yang masih tergambar di papan imajinasinya
*****
Beberapa tahun sebelumnya, Erni hanya seorang gadis sederhana dan hanya tamatan SMA. Yang kemudian di nikahi oleh salah satu mahasiswa KKN{ kuliah kerja nyata} yang sedang mengemban tugas lapangan di kampungnya. Dan kini Sang suami itu telah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi terkenal.
***
Hingga dari pernikahan mereka, lahirlah dewadewi kecil bagi pasangan ini. Bayi kembar di lahirkan Erni setahun setelah pernihakan . Dan semua anugrah itu adalah kebangaan baginya dan keluarganya. Erni di sebut-sebut gadis beruntung. Punya suami berpangkat dan baik . Dan itu secara langsung mengangkat Status sosialnya di kampung. Yang mana semua itu masih sangat berpengaruh. Begitu banyak kata pujian mengantarkannya kepada rasa bangga. Dan Ia benar-benar mensyukuri keberuntungannya itu.
***
Berada di dekat seorang suami yang mempunyai pekerjaan mengajar. Maka Erni tak lepas juga dari buku-buku bacaan. Yang tanpa di sadari, semua kebiasaan membaca itu mengasah bakat terpendamnya. Diam-diam Erni menyadari talenta menulisnya . Yang kemudian berawal hanya sekedar mencoba. Ide-ide itupun di tuangkannya ke dalam tulisan, dan di simpan dalam file pribadinya.
***
Sejauh ini suaminya tak pernah tahu, kalau istrinya diam-diam menulis Artikel, esai, cerpen bahkan cerita panjang pun berhasil di rangkainya. Namun Erni masih belum percaya diri untuk unjuk gigi mempublikasikan tulisannya itu. Ia masih merasa bahwa tulisan2nya belumlah layak di publikasikan dan di baca orang banyak.
***
Hingga suatu hari Ia mendapat informasi dari internet, kalau ada sayembara lomba mengarang novel yang di adakan sebuah tabloid. Kemudian Ia memberanikan diri untuk membicarakannya dengan suami tercintanya.
"Mas.." Sapanya lembut pada suaminya .
"Hmm.." Jawab suaminya ringan. Tetap tertumpu pada buku yang di bacanya.
Erni mengambil beberapa file yang telah di print dan di simpan di sebuah map khusus. lalu meyodorkannya file itu pada suaminya."Coba Mas baca ini, dan kasih koment ya".
Suaminya sedikit terhenyak dengan sikap istrinya. "Eh, kamu menulis ya?" Tanyanya setelah mendapati nama istrinya tertera di akhir tulisan itu.
***
Erni dengan hati berdebar, menunggu pendapat suaminya. "Bagaimana Mas " Tanyanya tak sabar ingin segera mendapat penilaian.
"Hmm...bagus, mau di apakan dik?"
"Mmm.. ada sayembara mengarang novel, gimana kalau aku ikut?"
"Wow! sejak kapan kamu bisa menulis Dik? kenapa kamu tidak pernah membicarakan hobimu ini?"
Erni hanya tersenyum manja, dan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
***
Maka ikutlah Erni dalam lomba tersebut dengan harapan yang tak terlalu tinggi. Siapa sangka Pada suatu hari, Erni mendapat kabar kalau novelnya menjadi juara dalam lomba tersebut. Dan kemenangan itu di nobatkan sebagai anugrah kedua, setelah anugrah pertama yaitu pernikahan bahagianya.
***
Kemenangan itu semakin melecutkan semangatnya untuk lebih rajin lagi membuat novel-novel baru . Di atas kemenangan masih ada kemenangan lain yang menanti! begitu pepatah mengatakan. Jika hari ini Ia memenangkan satu hal dalam hidupnya, bukan tidak mungkin Ia memenangkan sepuluh hal lain dalam hidupnya. Pikir Erni dalam hati.
***
Selanjutnya menulis adalah bagian dari dedikasi hidupnya. Hari-harinya adalah mencari ide tulisan, dan aktivitas menulis menjadi aktivitas penting yang tak dapat di ganggu gugat. Dan Ia berhasil mendapatkan kemenangan selanjutnya. Erni menembus penjualan bestseller bagi bukunya yang berjudul Cahaya di ufuk nestapa. Membawanya ke dalam posisi terkenal sebagai seorang penulis tanah air.
***
"Dik..., malam ini aku ingin..! yuk tidur! " Kata suaminya yang sebenarnya telah lama menunggunya menulis di sampingnya.
"Ingin apa Mas? tidur aja dulu, nanti nyusul ya! kurang dikit lagi! " Jawabnya masih berkutat pada monitor komputernya. Akhirnya tak ada kata lain yang dapat di ucapkan Suaminya. Sambil mendesah berat, suaminya ngeloyor tanpa semangat menuju kamar mereka. Memejamkan mata dengan memeluk sepi dan dingin di atas tempat tidurnya. Dan itu terjadi lagi dan lagi di malam-malam berikutnya.
***
Di suatu malam, Erni teringat akan sesuatu. Ia segera men-save tulisannya, dan sesegera mungkin menutup komputernya. Dari dua hari ini, ia ingin memberikan kehangatan pada suaminya yang entah telah berapa lama Ia lupa menunaikannya. Sebenarnya tidak lupa, hanya saja setelah berhenti menulis, badannya terasa lelah sekali. Ia merasa sangat berdosa dengan suaminya yang dua hari yang lalu di buatnya kecewa berat.
***
"Dik..." Bisik suaminya mesra.
"Apa...!" Jawabnya ketus dan membungkus tubuhnya tapat dengan selimut.
"Gimana sih..?" Suaminya mulai sedikit marah. Di panggilnya sekali lagi istrinya dengan lebih lembut lagi. Tapi Erni yang setengah tidur, menjadikannya kalap karna gangguan itu. Ia menjejakkan kaki seenaknya, dan ternyata mengenai perut suaminya hingga terjatuh dari tempat tidurnya. Dan yang memicu pertengkaran Erni dan suaminya malam itu, adalah kata-kata kasar Erni pada suaminya. " Cari aja yang lain! jangan ganggu aku!" Erni ngotot tanpa di sadarinya. Ia benar-benar lelah, karna dua hari ini, hampir Ia tak bisa tidur karna ide-ide di kepalanya menuntutnya untuk terus menulis.
***
Dan malam ini, Erni akan memberikan yang terbaik dari malam2 yang pernah di lalaikannya. Dilihatnya jam telah menunjuk ke arah angka 1:10 menit dini hari. ia melompat dari kursinya dan segera keluar dari gua idealismenya. Erni berniat ke kamar mandi di belakang.
***
Beberapa langkah sebelum tiba di kamar mandi, Ia mendengar lamat-lamat suara seseorang yang di kenalnya dari kamar pembantunya. Erni mendekat pelan dengan kaki di jingkat-jingkatkan. Dan...
Lenguhan itu jelas terdengar di teliganya. menggetarkan dinding tembok yang di buat menempelkan telinganya. Tubuhnya bergetar hebat.
***
Ia segera menggedor-gedor pintu itu. Nafasnya tersengal memanggil-manggil nama pembantunya yang masih sebulan ini di pekerjakannya. Dan akhirnya Ia mendapati suaminya di dalam kemar pembantu itu. Suaminya tertangkap basah dengan badan basah oleh keringat di sekujur tubuhnya yang masih kelihatan menegang.
***
Di pinggir sebuah danau Erni mendamparkan diri. Selama empat hari Ia minggat dari rumah. ia tak mampu menginjakkan kakinya di setiap tapak lantai rumahnya. Tak lupa sebelum kepergianya, Ia tetap menuliskan surat untuk suaminya agar menjaga kedua anaknya. Buku betseller yang di tulisnya kini menggambarkan tokohnya adalah Erni sendiri. Bahkan rasanya Ia tak ingin lagi membawa nyawa yang terkandung dalam raganya. Karna hidup terasa begitu menyakitkan.
***
Ia menginap di sebuah hotel mewah yang menghadap ke danau di bali. Dan setiap hari Ia menghabiskan waktunya di tepi danau itu. Banyak di lihatnya berpasang-pasang orangtua berlibur di tempat itu dan menemani anak-anak mereka yang seumuran dengan anaknya. Mempertontonkan kebahagiaan dalam kebersamaan satu keluarga. Ada rasa yang menggigit di kalbunya. Kerinduan akan kehangatan itu kembali mendesaknya untuk mengakui kesalahannya sendiri. MANUSIA MEMANG TAMAK DAN SERAKAH! itulah hardikan sisi dalam hatinya. Ia menyadari bahwa apa yang di lakukannya telah mendatangkan nestapanya hari ini.
***
Ia mengeluarkan handphonenya yang beberapa hari ini tidak di aktifkannya. Ia buka dan beberapa sms masuk berkali-kali. Di biarkan sampai sms itu masuk semua ke dalam inbox hp nya. Berpuluh-puluh sms kemudian di bacanya satu persatu.
"Dik ampuni aku, demi anak kita!"
"Dik di mana kamu..?"
Dan berpuluh-puluh sms senada membuatnya Ia kembali histeris. Airmatanya yang hampir kering itu tiba-tiba membanjir. Beberapa sms pemberitahuan pesan mailbox yg masuk di dengarkannya. Suara mungil Aldi dan Alda terdengar menyayat hatinya.
"Mama di mana? kalau Mama ga pulang Alda ga mau makan!" Terdengar suara alda mengancamnya di pesan mailbox.
"Dik, Alda demam, tolong pulanglah, kalau mau menghukum , hukumlah aku dik, jangan anak kita" Suara selanjutnya adalah suara suaminya yang terdengar mengkhawatirkan putrinya.
***
Erni tiba di rumahnya jam sembilan malam. Di rumahnya hanya ada ibu mertua dan ibu kandungnya. "Er..kamu ini ada apa sih? apa yang terjadi? Alda di bawa ke rumah sakit ini lo" Kata Ibunya dengan tetesan airmata yang semakin memedihkan hati Erni.
'Bu antar aku kerumah sakit, di rumahsakit mana?" Tanyanya cemas.
Akhirnya dengan di antar menggunakan motor oleh tetangganya, Erni memasuki halaman rumahsakit dan segera mencari daftar nama anaknya.
***
Di lihatnya Alda terbaring terpejam. Ditanganya tertancap jarum infus . Erni segera mendekati Putrinya itu. bapak kandung dan bapak mertua serta suaminya tak lagi di hiraukannya. Ia mengelus putrinya yang tak tahu kedatanganya.
"De Ada..., Mama pulang sayang..." Erni mengecup kening anaknya. Namun mata mungil dewinya itu pun masih juga terpejam.
"Dia baru saja di kasih obat tidur Er, jadi biarkan dia tidur sebentar" Kata Bapaknya kemudian.
"Alda baik-baik saja kok kata dokter, cuma demam biasa saja. Tenang saja Nduk" Mertuanya menyambung. Erni hanya bisa mengangukkan kepalanya. " Trimakasih Pak.!" Jawabnya lirih di sela isaknya yang tertahan.
***
Beberapa menit Ia memandangi wajah sayu anaknya. Dalam hati Ia menjerit "Ya Allah sembuhkanlah anakku, aku berjanji sebagai Bundanya tidak akan meninggalkannya lagi, dan memperbaiki sikapku, aku akan berkorban untuknya! Ya Allah..., rasa sakit atas peringatanmu padaku, ku tebuskan untuk kesembuhan anakku..! Ya Allah ampuni hambamu ini...!"

7 comments:

halaman waktu said...

hmmm... sbnyk cerpen yg yun tulis sbnyk itu pula pujiannya. cerita ini melibatkan banyak emosi, sisi rahasia, sisi imajinasi, jg mimpi, di bungkus dlm ending kesadaran dr tokoh utamanya. Ada banyak yang membuat sy penasaran dr cerpen ini... (adakah kesalahan ini setimbang dgn penyesalan?)

si kumb@ng said...

membaca labelnya seakan menjadi peringatan buat aku, dgn hobi dan idialisme yg kita miliki, mampukah kita mengalahkannya demi sebuah komitmen..?

bening said...

nah lho, kok ide awalnya sama dengan yang ada di otakku
cuman endingnya aja yang beda
kok bisa ya he he he..
mikir mode = on

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, sibuk sih sibuk tapi jgn lupain suami ya. he he he...

Andri Maila said...

thx dah komen di andrimaila.co.nr..oia klo mo ikut kajian onlennya jg bisa kok tinggal add aja id ym ini kajianonline_kotasantri kajian onlenya tiap jumat setelah solat jumat...tengkiu

chikal said...

lam knl bu...!!! terlalu singkat tuh ceritanya...

Khery Sudeska said...

Sulit menangkap makna yang sebenarnya dari cerpen ini. Hanya penulisnyalah yang paling tahu. Tapi itulah sebuah ke-khasan karya sastra. Salut...