Monday, May 25, 2009

Jejak Mimpi

Ku ayunkan pedal sepeda jengkiku dengan hati legowo. Tak lupa kubaca selalu al-iklhas dan membayangkan wajah Ibuku yang tersenyum dan berucap" Nak aku bangga padamu". Kendati aku harus berjauhan dengan beliau, tapi aku yakin doanya selalu terucurahkan kepadaku di setiap waktu! karna aku merasakan itu.

Ku susuri jalanan kampung dengan sepeda ontel pinjaman Bos ku. Demi mengais rezeki dengan jalan yang sebenarnya tak ku inginkan ini. Pekerjaan mencari barang bekas adalah pekerjaan yang sangat tak ku bayangkan sebelumnya, dan tak mudah bagiku menaklukkan diriku sendiri untuk ikhlas menjalaninya.

Berawal dari kepergian Ayah, dan berakhir dengan merosotnya ekonomi keluarga. Dan aku??Ohh!! sepertinya aku belum cukup mampu menjadi tiang bagi usaha yang Ayah rintis, sebelum Beliau beristirahat selamanya meningalkanku dan juga Ibu. "Ayah, salahkah aku menjadi pemulung seperti ini? jika engkau masih di sini, kecewakah engkau padaku Ayah? " Tiba-tiba hatiku di rundung nelangsa yang diam-diam menyerang jiwaku. Namun, wajah Ibu kembali hadir dengan senyumnya yang tulus.

Aku berteriak sedikit keras hari ini, untuk memberitahukan kepada orang-orang kampung yang ingin menukarkan rongsokan mereka dengan uang recehan yang kutawarkan. Hari ini aku bertekad harus mendapatkan penghasilan lebih besar dari kemarin!. Kembali senyum Ibu mengiringiku.

Sampai tengah hari, tak jua ku temukan kepuasan dengan hasil yang telah ku dapatkan. Rasanya masih jauh dari yang ku targetkan sebelum berangkat tadi pagi. Ku lirik keranjangku, dan hanya buku-buku bekas saja yang mengisi seperempat perutnya. Aku mendesah tapi tak bermaksud mengeluh. Karna pantang bagiku mengeluh untuk urusan yang sepele! "Bukankah masih ada setengah hari lagi?" Pikirku menghibur diri.

Aku menghentikan sepedaku di Gardu Pos kamling di pojok kampung. Terasa kering sekali tenggorokan ini memaksaku untuk segera membasahinya. Ku ambil botol minuman mineral yang sengaja aku siapkan. Dan sesaat mataku tertumpu pada buku bekas di perut keranjangku. Aku tertarik untuk membacanya sebentar sebagai teman istirahatku siang ini.

Ku baca judul buku itu. "Think and Grow Rich" . Aku berpikir sejenak mengartikanya. " Berpikir dan menjadi kaya??" Aku tercengang. Tak bisa ku lukiskan betapa aku gembira menemukan buku ini. Ku reguk air putih yang terasa lebih nikmat ini. Perutku yang tadi gemerucuk, tiba-tiba terasa kenyang saja. Aku tersenyum sendiri, rasanya tak sabar aku ingin segera memutasi isi buku ini. "Hmm..., Aaacchhh!!" Kantuk meyerangku tanpa perasaan. Padahal aku masih ingin memburu waktu untuk mengejar target penghasilanku hari ini. Aku menguap lagi dan lagi.....!.

"Allahu akbar..Allahu akbar...!" Seruan Adzan mengagetkanku.

Aku tergagap. Ku dapati diriku sedang bersandar pada dinding Post. "Aku tertidur?" . Aku masih bingung dengan ke adaanku. Setelah beberapa detik kemudian, aku baru sadar, kalau diriku tertidur di tempat ini. Pertama yang aku ingat adalah daganganku. Tak ku dapati sepeda jengkiku yang tadi aku sandarkan tak jauh dari tempatku duduk.

"Hasbunallah.. wanikmal wakil..!". Ku cari sampai ke ujung kampung. Ku tanyakan ke setiap orang adakah yang tahu siapa gerangan yang telah meraibkan sepeda pinjaman Bos ku itu? . Dan... tak satupun ada yang tahu. Aku menyesal kenapa aku tertidur tadi.

Sepanjang jalan pulang, aku berjalan kaki. Namun ada yang mengusik hatiku, tentang mimpi di tidurku tadi. Begitu rekat ku ingat wejangan seorang bijak yang tak ku kenal. Pancaran matanya menatapku penuh makna.

Setelah kujelaskan pada Bos apa yang telah menimpaku. Aku hanya ada satu pilihan, yaitu berhenti bekerja! Bos tidak memarahiku, bahkan tetap memberikan gajiku dan kelebihan sedikit padaku. Sepeda yang hilang itupun tak di perhitungkannya.


"Alhamdulillah....!" Aku bersyukur bisa melewati kesulitan ini. Hanya buku bekas Think and Grow Rich itulah satu-satunya yang ku bawa. Dan berbekal uang gaji sebulan serta pesangon inilah yang kemudian memaksaku untuk berpikir mengambil keputusan. "Haruskah aku pulang? lantas apa yang aku bawa pulang untuk menemui Ibu?" Pertanyaan pertama meghentikan satu langkah kakiku. "Atau aku kembali bertaruh, untuk tetap bertahan dan mencari pekerjaan lain?" Sebersit ide melintas di otakku. Dan hatiku pun menyetujuinya.

"Hasbunallah wanikmal wakil...! Nikmal Maula Wanikman Nasir..!" Ku sebut lagi dan lagi.

Aku mengikuti arah langkahku menuju Halte Bus. Di sinilah aku bertaruh dengan diriku sendiri. "Aku akan naik Bus yang berada paling depan. Jika Bus itu menuju arah ke kotaku,berarti aku harus pulang ke rumah. Dan apabila Bus itu menuju arah kota lain, di situlah aku akan mencari penghidupan .

Bus pertama ku lihat dari kejauhan menuju ke arah ku. Dan aku tak peduli Bus apapun itu namanya, aku tetap akan naik dan mengikuti kemantaban hati saja. "Hasbunallahu wanikmahwakil.., Bismillah.." Aku naik Bus itu dan berdiri berpegangan pada sandaran kursi Bus yang telah penuh oleh penumpang yang lebih dulu naik.

"Assalamualakum Mas, mau kemana neh?" Aku beranikan diri menyapa seseorang yang berada di dekatku.

"Oh Saya mau ke gresik Mas, pulang ke Pondok" Jawabnya sambil tersenyum tipis. "Lah Mas sendiri mau kemana ini?"

"Aku?" Aku bingung menjawabnya. "Aku mungkin juga ke sana" Akhirnya aku menjawab sekenanya.

"Ke Gresik juga ya? mau kuliah apa kerja Mas?" Tanyanya lagi tanpa merasakan sedikitpun kebingunganku.

"Kamunya ke Gresik kuliah pa kerja?" Tanyaku balik menanyainya, untuk sekedar memancingnya agar aku bisa mengorek sedikit tentang Gresik. Dan paling tidak aku bisa mengulur waktu untuk berpikir dan bisa menjawab pertanyaan selanjutnya yang ku perkirakan.
Diapun menceritakan sekelumit kisahnya selama menuntut ilmu di pesantren Mambaus shalihin Gresik.

Sesaat kami berhenti bicara di tengah ramainya para penumpang yang gaduh, dan larut dalam kediaman diri dan pikiran masing-masing. Dan detik itu Ada yang melintas lagi di otakku, yaitu tentang mimpiku kemarin siang.

"Mas Mawan nanti turun di mana?" Tanya pemuda yang memperkenalkan dirinya bernama Arul itu membuyarkan sedikit resahku tentang mimpi yang melekat di hatiku itu.

"Bagaimana kalau aku ikut kamu saja ke pesantren?"

"Ikut Mas? " Arul sedikit heran dengan jawabanku yang tak di sangkanya. Tapi kemudian dia hanya mengangguk saja.

Akhirnya tibalah kami di halaman pesantren yang menurutku sangat mewah ini. Setelah menginjak pelatarannya, aku justru bingung menentukan sikapku.

"Jangan kawatir Mas, aku akan membawa Mas ke pengurus dan Mas bisa secara detail menanyakan informasi apapun tentang pondok ini" Kata Arul yang memang masih 6 tahun di bawah umurku. Dan tak begitu mengerti sama sekali tentang gundahku.

Sesaat aku berdiri ragu di gerbang pesantren, ku lihat mobil yang akan masuk ke dalam pesantren itu. Aku dan Arul segera menyingkir.

"Itu Pak kyai Mas" Kata Arul ku jawab anggukan kepala. Ku lihat Seorang yang berwibawa sedang turun dari mobil tadi, tak jauh dari tempat kami.

Ku ikuti Arul yang berjalan mendekat dan mengucapkan salam pada Sang Kyai yang ramah itu.

"Ini siapa Rul?" Tanya Pak Kyai akrab pada Arul yang kemudian memperkenalkanku dengan sopan.

Tiga hari setelah itu...

Aku beranikan diri meminta ijin untuk menemui Sang Kyai yang kemaren bertemu di pintu gerbang. Entah kenapa, aku punya felling untuk menemuinya. Dan subhanallah, Pak Kyaipun tak keberatan menemuiku secara pribadi. Dan tujuan utamaku adalah menanyakan hal yang seperti terurai dalam mimpiku saat tertidur di poskamling kemaren dulu itu.

Di sebuah ruangan masjid, aku dan Pak Kyai bertemu dan bertatap muka secara langsung. Dan ku uraikan kedatanganku ke tempat ini dan juga ke gundahanku tentang mencari titian hidup.

"Kita manusia harus mengajukan proposal doa kepada Allah tempat kita meminta Anakku" Pak Kyai mengawali jawaban atas semua pertanyaan yang ku ajukan yang menurutku sedikit bercanda...

.....Kurang lebih 30 menit kemudian.

Aku mendengarkan sangat jelas apa yang di sampaikan Kyai santun di depanku ini. Petuahnya menguatkan niatku untuk menuntut ilmu di sini.

Setelah hari terangkai menjadi bulan. Akupun harus mengabari Ibu yang juga mungkin sedang menunggu kabar dariku. Aku mulai menulis surat sekalian mengirimkan sedikit ikhsan yang ku dapat dan masih tersimpan di dompetku.

Hari-hari kulewati dengan terus menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Pak Kyai juga para Ustad-Ustadnya. Hingga kabar dari Ibupun membuatku menangis pertama kalinya dari sekian lama ku tinggalkan beliau. Ibu mengabarkan bahwa Ibu sangat bahagia mendengar aku sedang berada di sini, dan memintaku untuk tidak memikirkan ekonomi di rumah. Ibu mengabarkan bahwa ada beberapa orang telah mengembalikan uang Ayah yang dulu di hutang oleh mereka. Dan Ibu mulai merintis kembali usaha kecil-kecilan bersama kakak dan adik di rumah.

*****

Enam tahun perjalanan hidupku kemudian....

"Abi...ada yang di pikirkan? " Suara lembut menyapaku dengan kedua tangan langsung memijat pundakku. Aku menoleh padanya. Ku kecup keningnya dan ku elus perutnya yang membuncit.

"Tidak ada apa-apa Um, cuma teringat masa enam tahun lalu saja" .

"Ohya? bersyukurlah Abi.." Katanya begitu menentramkan. Dan aku selalu ingin menangis bila menatap mata sendunya yang tulus. Mengingat selalu pengorbanan dan cintanya padaku! Aku yang hanya seorang melata, sedangkan dirinya Seorang putri Kyai besar, namun dengan besar hati mau mengikutiku berjuang dalam mengarungi hidup selama dua tahun ini dalam merintis pesantren kecil di kampung kelahiranku.

Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillah...! Atas rahmat dan taufikmu Ya Allah..! begitu sempurna kau ciptakan skenario hidupku. Dan begitu tertata tanpa aku bisa menduga sebelumnya. Berawal dari hilangnya sepeda jengki dulu, ternyata engkau telah menuntunku untuk mencari jalan yang telah engkau tetapkan Ya Allah..!

Alhamdulilah...Alhamdulillah..Alhamdullillah..! Trimakasih pada Sang Kyai yang telah membimbingku dan mengikhlaskan Putrinya hidup mendampingiku. Dan Ibu...Ohh Ibu...! Doamu yang suci telah di kabulkan Ilahi Robbi. Dan Ayah...Ohh Ayah...! Amanahmu telah aku tunaikan..!

Alhamdulillah...!telah ku temukan jejak mimpiku Ya Allah...!

7 comments:

si kumb@ng said...

Selalu Hadir Dengan kisah-kisah luar biasa...
salut buat kamu..

bening said...

hemmm...
kebayang mbak!!!!!
sukses selalu ya

tamhitam said...

hihihi yumyum ini cerpen r cerjang r certul hihihi.

getir memang hidup ini tsah! hihi kenalan ya :P

halaman waktu said...

ada nasehat yang di sisipkan dalam kisah ini...hampir2 terlewatkan. aku sampai bergetar dan tergetar...mengakui kebodohanku. Sebuah kisah syarat inspirasi...

halaman waktu said...

weleh td mo nulis sarat ko ke tulis syarat...^_^

kisah ini sarat insprirasi

chikal said...

muantab bu...

SanG BaYAnG said...

Ikhlas dalam menjalani hidup dan snantiasa bersyukur..
Salam..